Menahan Haus Dan Lapar Seharian, Tapi Saat Menunggu Berbuka Puasa, Lihat Apa Yang Dilakukan Para Remaja Asal Yogyakarta Ini..

Menunggu waktu berbuka puasa bersama teman adalah hal yang menyenangkan. Karena bulan suci puasa terjadi setahun sekali.

Momen kebersamaan dan kemenangan setelah seharian menahan lapar dan haus dilakukan secara unik oleh remaja asal Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Mereka lakukan tradisi unik, yakni melantunkan Sholawat Rodad. Tradisi turun temurun ini juga digunakan untuk mengisi datangnya waktu berbuka puasa, karena saat beberapa kali latihan waktunya menjelang berbuka puasa.

Sekitar pukul 17.00 WIB, mereka berkumpul di Alas literasi Banjarharjo. Dengan berpakaian atasan putih, dan bawah celana hitam, komplit mengenaakan peci, puluhan orang duduk bersimpuh berhadapan.

Tak ketinggalan, masing-masing memegang kipas. Sementara beberapa lainnya, yang usianya lebih tua duduk disamping dan menyiapkan rebana.

Shalawat Rodad merupakan lantunan shalawat sambil diiringi tabuhan rebana. Namun pelantun shalawat melantunkan shalawat sambil memainkan kipas dan menggerakkan tubuh, atau disebut leyek. Pelantunan shalawat ini baru selesai menjelang berbuka puasa.

"Kami biasanya latihan dua kali dalam selapan (34 hari dalam perhitungan Jawa) yakni Senin Kliwon dan Senin Pon,"kata Salah satu tokoh masyarakat dusun Banjarharjo II, Ahmadi di lokasi, Rabu (30/5/2018).

Untuk saat bulan Ramadan biasanya dilakukan selepas shalat Tarawih, atau menjelang berbuka puasa. "Tujuannya untuk mengajak anak muda mengurangi nongkrong tidak jelas, selain itu gerakan leyek efeknya bagus, karena gerakan itu bisa melencarkan peredaran darah,"ucapnya.

Menurut dia, dari cerita turun temurun dusun setempat, Sholawat Rodad ini berawal sekitar tahun 1953, saat itu lima orang tokoh agama setempat pulang dari mengaji di wilayah Pleret, Bantul.

Adapun lima orang itu, Ahmad Karsum, Mujahid, Dullah Sadik, Mustam, dan Abdul Rohman, beristirahat di tengah perjalanan. Di tengah hutan, mereka mendengar suara Sholawat Rodad, dan akhirnya mencari informasi dari mana asal muasal suara.

Lalu ditemukan di wilayah Giriloyo, Wukirsari, Imogiri. DI sana mereka berlima belajar mengenai tarian dan tabuhan Sholawat Rodad, selama 21 hari.

Mereka kemudian mengajarkan kepada santri di Mushala dusun setempat. Awalnya santri yang dilatih ada 25 orang, dan 7 dalang, serta penabuh. Berkembang generasi kedua ada 50 orang penari, dan 7 dalang, serta penabuh. Lalu generasi ketiga ada tambahan 40 orang.

"Saat ini generasi ke empat, dan yang melakukan shalawat Rodat ada 54 orang ditambah tujuh orang penabuh dan dalang,"tuturnya.

Salah seorang pemuda yang ikut Sholawat Rodad, Nanang Kosim mengatakan, dirinya tertarik untuk mengikuti Sholawat Rodad karena ingin melestarikan tradisi yang sudah dilakukan beberapa generasi ini.

"Saya sebagai generasi muda ingin ikut melestarikan budaya yang ada disini," katanya.

Kalau kalian apa yang kalian lakukan sambil menunggu berbuka puasa?

Sumber: https://today.line.me

Loading...

Leave a Comment