Setelah Terpisah Selama 5 Tahun, Suatu Hari Orang Tua Dan Anak Kandungnya Bertemu, Tapi Mereka Malah Pura-Pura Tak Saling Kenal. Ternyata Alasannya Sungguh Menyedihkan..

Dalam keluarga bila salah satu anggotanya sedang berjauhan biasanya anggota keluarga lain akan sangat merindukannya.

Ini yang biasanya dialami oleh anak-anak yang terpaksa sekolah di negeri orang dan berjauhan dengan keluarga mereka.

Demi masa depan si anak, biasanya orang tua akan rela memberikan dan melakukan apapun. Termasuk kisah satu ini.

Dikutip dari Sripoku.com dari Cerpen.co.id, pasangan Radit dan istrinya rela membiarkan anaknya bersama orang lain agar hidupnya terjamin dan tidak kekurangan.

Padahal pasangan suami istri ini sudah terpisah dari anaknya selama lima tahun.

Bagini kisahnya :

“Pasangan suami istri Radit dan Nana, kehilangan anaknya bernama Rangga selama 10 tahun. Ketika itu mereka bertiga sedang berada di stasiun kereta api dan berniat akan berangkat ke kota untuk bertemu dengan kerabatnya.

Sebelum berangkat, Radit dan Nana menyempatkan diri membel makanan, seketika itu pula Rangga yang baru berumur 4 tahun menghilang, Radit dan Nana pun sangat panik dan terus menerus mencari Rangga.

Namun sayangnya pencarian keduanya tidak membuahkan hasil.

Sejak saat itu, hidup Radit dan Nana dipenuhi kesedihan. Karena hal itu juga, Nana menjadi sedikit gila.

Baru setelah beberapa lamanya, mereka memutuskan untuk memiliki anak lagi, seorang anak perempuan, tapi tetap saja, mereka merasa ada yang kurang di dalam hidup mereka.

Tanpa terasa, 5 tahun pun berlalu. Orang lain telah memiliki rumah yang bagus dan nyaman untuk ditinggali, hanya keluarga Radit saja yang masih tinggal di rumah bobrok dan kuno. Hal itu terjadi karena selama bertahun-tahun ini, mereka sibuk mencari Rangga dan menghabiskan semua uangnya untuk itu, bahkan tidak ada waktu untuk bekerja.

Suatu hari, ada seorang tetangganya, Dodi berkata: "Radit, aku melihat putramu di kota, ia terlihat sudah masuk ke sebuah sekolah dasar di kota itu. Sepertinya putramu diadopsi oleh orang kaya, seorang bos besar, buruan kesana".

Radit yang mendengar hal ini merasa sangat senang dan ingin langsung buru-buru pergi ke kota dengan kereta api.

Tentu saja, ada penduduk desa lain yang tidak percaya kepada Dodi: "Apa kamu gak salah lihat? Waktu sudah berlalu begitu lama loh, apa kamu yakin itu adalah putra Radit?"

Dodi menjawab: "Saya sangat yakin. Ketika masih muda, aku pernah menggendong Rangga, jadi tanda lahir yang ada padanya membuatku yakin bahwa aku tidak mungkin salah lihat orang."

Dodi mengatakannya dengan yakin, sehingga Radit pun percaya akan hal itu.

Kemudian, Radit memilih pergi ke kota. Jika yang dikatakan oleh Dodi, benar, ia baru kembali ke desa untuk memberitahu istrinya.

Setelah sampai di kota, Radit pun mencari kesana kemari sekolah dasar yang disebutkan oleh Dodi. Radit terus menunggu disana hingga jam pulang sekolah dan gerbang dibuka. Terlihat banyak orangtua yang menjemput anak-anaknya, tiba-tiba di tengah keramaian itu, ia melihat sesosok yang ia kenal. Memakai pakaian yang rapi dan benar itu adalah anaknya, Rangga. Saking terharunya, Radit hampir menangis.

Ia lalu berusaha maju beberapa langkah dan hendak memanggil Rangga. Tapi, tiba-tiba seorang pria tua datang menghampiri Rangga dan menggandengnya masuk ke mobil.

Radit merasa kecewa, tapi ia dengan segera memanggil taksi dan mengikuti mobil pria tua itu, mencari tahu dimana mereka tinggal.

Hingga sampailah di sebuah perumahan, mobil pria tua itu masuk, tapi Radit tidak diperbolehkan masuk ke daerah perumahan itu karena ia bukan penduduk sana.

Karena merasa sudah tahu dimana anaknya tinggal, Radit kemudian kembali ke desa dan menceritakan segalanya kepada Nana. Nana yang mendengarnya pun merasa senang dan keesokan harinya mereka berdua bersama-sama pergi ke kota mencari putranya lagi.

Mereka menunggu dan memperhatikan sang anak untuk memastikan bahwa anak laki-laki itu adalah Rangga, putranya yang hilang.

Setelah merasa yakin, akhirnya Radit mengatakan kepada Nana untuk meminta bantuan kepada polisi agar Rangga bisa kembali kepada mereka.

Setelah Nana melihat dimana Rangga tinggal, ia berpikir sejenak dan dengan tenang ia berkata kepada Radit: "Radit, aku pikir tidak perlu, setelah 5 tahun Rangga hilang, ia mungkin tidak akan mengingat kita. Sekarang ia sudah hidup dengan baik disini, pria tua itu juga baik dan memperlakukannya dengan baik. Jika kita membawanya kembali kepada kita, dengan kondisi kita yang sekarang, ia mungkin akan merasa tidak terbiasa. Lebih baik, kita berusaha berpikir untuk tidak mengenalnya."

Radit pun terkejut dan berkata: "Kamu sudah gila ya, itu putra darah daging kita! Apa yang kamu pikirkan?"

"Aku tidak gila, Kehilangan seorang anak memang membuatku hampir gila. Tapi sekarang anakku sudah ketemu, hatiku sudah tenang. Kondisi pria tua itu begitu baik, aku merasa tenang Rangga hidup bersamanya. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah melihatnya, menemaninya, demi dirinya bahagia dan sehat. Apakah kamu masih khawatir?" jawab Nana.

Apa yang dikatakan Nana memang masuk akal, tapi satu yang membuat Radit bingung adalah: "Setiap hari melihatnya? Kita mana ada segitu banyak uang tiap hari datang ke kota?"

Nana kemudian menjawab, "Kita bisa membuka usaha kecil-kecilan disini, misalnya jualan sayur-sayuran dan makanan kecil. Membangun kehidupan sendiri sambil melihat pertumbuhan Rangga."

Mendengar ide Nana, Radit pun setuju dan pergilah mereka ke kota membuka usaha kecil-kecilan.

Setiap kali Rangga datang dan pulang sekolah, mereka bisa melihatnya. Meski Rangga sudah berada di dekat mereka, mereka tidak berani mengatakan kenyataan yang sebenarnya.

Jika pria tua itu datang membeli beberapa sayur, mereka sambil jualan sambil bertanya ke Rangga mengenai pelajaran dan kehidupannya.

Hari demi hari berlalu, mereka semakin akrab dengan Rangga, pria tua itu tidak mempermasalahkannya.

Tak terasa, 5 tahun berlalu. Radit dan Nana masih menahan diri untuk tidak mengatakan kenyataan yang sebenarnya kepada Rangga.

Suatu hari, ketika pria tua itu pergi ke kedai sayuran mereka, ia tiba-tiba bertanya kepada mereka: "Aku tahu siapa kalian, dan aku juga tahu kalian kesini untuk mencari anak kalian. Bertahun-tahun lamanya, kenapa kalian masih tidak mengatakannya, hingga akhirnya aku yang tua ini harus mengatakannya kenyataannya lebih dulu?"

Seketika itu juga, Radit dan Nana kaget bukan main dan mereka bertanya kepada pria tua itu, bagaimana ia bisa tahu.

Pria tua menjawab: "Sejak awal aku sudah tahu, mulai kalian berjualan disini aku juga sudah tahu. Aku bahkan menyuruh orang menyelidiki rumah lama kalian, dan ternyata prasangkaku selama ini benar. Kalian kesini karena ingin mencari anak kalian, aku menunggu kalian sampai kapan akan membuka suara mengenai identitas anak kalian. Anak sendiri kenapa tidak diakui? Bagaimana anak kalian bertemu denganku, aku akan menjelaskannya. Ya, ketika itu aku sedang dinas kerja, aku melihatnya tersesat dan kupikirkan ia adalah anak yang ditinggalkan, jadi aku membawanya pulang bersamaku. Sambil mencari orangtuanya, aku merawatnya, tak disangka waktu berjalan begitu cepat, 10 tahun berlalu. Jangan khawatir, sekarang ia sudah berusia belasan tahun, ia adalah anak kalian dan juga anakku, aku akan memperlakukannya dengan baik".

Radit dan Nana yang mendengar penjelasan pria tua itu pun merasa terharu dan berkata, "Anda adalah penyelamat keluarga kami, kami sangat berterima kasih kepadamu!"

Sejak saat itu, tidak ada rahasia lagi diantara mereka, Rangga juga sudah menerima kenyataan yang sebenarnya dan mereka hidup bersama dengan bahagia."

Berkaca dari kejadian di atas, sebagai orangtua harus ekstra hati-hati dalam mengawasi dan menjaga anak-anak, terlebih di tempat keramaian.

Kisah ini mengajarkan bahwa dalam hidup orang tua banyak berkorban demi anak-anaknya, sudah sepatutnyalah kita menjaga dan menyayangi kedua orang tua kita.

Sumber: http://palembang.tribunnews.com

Loading...

Leave a Comment